Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya

Langkah Keluar dari Samsara: Pilihan dari Sutra Surangama, Bagian 1 dari 2

2026-07-22
Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Sutra Surangama adalah Sutra Mahayana yang dianggap sangat penting dalam Buddhisme Zen, Chan, dan Tanah Suci. Dalam sutra ini, melalui pertanyaan Yang Mulia Ananda tentang “langkah2 menuju Pencerahan,” Buddha Shakyamuni (vegan) menjelaskan hukum kausalitas, apa itu ilusi, dan jalan menuju pencerahan. Ada rincian tentang Yang Disembah Bodhisattva Quan Yin (vegan) yang menguraikan tentang Aliran Suara Surgawi serta pentingnya menjaga sila-sila Mulia, yang mencakup menjauhi pembunuhan dan memakan daging insan-hewan. “Ketahuilah bahwa mereka yang memakan daging, […] akan tenggelam kembali ke dalam lautan samsara yang pahit dan tidak bisa menjadi muridku. Mereka akan saling membunuh dan melahap tanpa henti; “Lalu bagaimana mereka bisa lolos dari tiga alam keberadaan?” Surangama Sutra Bagian 5: Pencerahan Orang Lain Telah diramalkan oleh Sang Buddha bahwa di akhir zaman Dharma, ini akan menjadi sutra pertama yang lenyap, dan juga memberi nasihat cara-cara melindungi makhluk hidup dari kegagalan pada zaman ini juga.

Hari ini, dengan senang hati kami mempersembahkan kutipan-kutipan dari “Tiga Langkah Bertahap untuk Menghapuskan Samsara,” dan “Sepuluh Tahap Keyakinan Bodhisattva,” dalam Sutra Surangama yang diterjemahkan oleh Upasaka Lu K'uan Yu.

Tiga Langkah Bertahap untuk Menghapuskan Samsara

“Apa saja ketiga langkah bertahap ini? (Yaitu:) praktik pendukung untuk hilangkan semua sebab tambahan; praktik utama untuk memusnahkan sebab-sebab dasar; dan praktik progresif untuk menghentikan pertumbuhan karma. Apa saja sebab-sebab tambahan itu? Ananda, kedua belas jenis makhluk di dunia ini keberadaannya bergantung pada empat cara makan: dengan makan, menyentuh, berpikir, dan menyadari makanan itu.” Karena itu, Buddha berkata bahwa semua makhluk bergantung pada makanan untuk kelangsungan hidup mereka (dalam samsara). […] Apa saja sebab-sebab dasarnya? Ananda, para praktisi yang ingin memasuki keadaan Samadhi harus terlebih dahulu mematuhi dengan ketat aturan hidup suci untuk memotong nafsu dari pikiran dengan menjauhi daging dan minuman keras dan dengan memakan makanan yang dimasak alih-alih makanan mentah. Ananda, jika mereka tidak menjauhi nafsu duniawi dan pembunuhan, mereka tidak akan pernah terbebas dari tiga alam keberadaan. Mereka harus menganggap nafsu sama bahayanya dengan ular berbisa dan musuh yang mematikan. Mereka harus memulai dengan mematuhi secara ketat […] empat larangan bagi para biksu dan delapan larangan bagi para biksuni untuk mengatur tubuh, lalu mematuhi disiplin Bodhisattva guna pastikan pikiran tidak terguncang. Jika mereka mematuhi sila-sila ini, mereka akan menghapuskan selamanya karma yang sebabkan kelahiran dan pembunuhan. Selain itu, jika mereka berhenti mencuri, mereka takkan berhutang apapun pada org lain dan takkan ada utang untuk dilunasi. Mereka yang menjaga aturan hidup suci dalam latihan Samadhi-nya, akan mampu melihat dengan mata kepala sendiri, tanpa bantuan penglihatan dewa, semua alam di sepuluh penjuru. Mereka akan menyaksikan Buddha mengajarkan Dharma, akan secara langsung menerima ajaran suci, akan memperoleh kekuatan transendental yang memungkinkan mereka berkelana dengan bebas di seluruh alam, dan akan memperoleh pengetahuan Buddha mengenai segala bentuk kehidupan masa lalu mereka sendiri maupun orang lain, sehingga akan kebal terhadap segala bencana. Inilah langkah kedua dari praktik bertahap. Apa yang terjadi ketika karma (tidak lagi) berkembang? Pikiran para praktisi yang mematuhi larangan-larangan ini, yang kini terbebas dari nafsu indrawi, tak akan melayang ke luar mencari rangsangan indrawi, melainkan kembali ke dalam (pikiran). Karena tak ada rangsangan indrawi yang menjadi sebab, indra mereka yang dengan demikian terlepas dari hal-hal luar, kembali kepada Yang Satu (yang tak terbagi), karena keenam fungsi indra telah berhenti membedakan, segalanya akan tampak murni dan bersih. Hal ini seperti bola kristal dengan bulan yang bersinar di dalamnya. Tubuh dan pikiran mereka akan merasakan kegembiraan dan kenyamanan yang luar biasa dalam keadaan ketidakberpihakan yang mutlak dan sempurna, di mana kesempurnaan esoteris dan keabsolutan murni dari semua Tathagata tampak. Lalu mereka akan capai kesabaran agung atas segala yg tak tercipta dan akan melanjutkan kemajuan mereka menuju kesucian. Inilah langkah ketiga dari praktik bertahap.”

Kemajuan Bertahap dalam Perkembangan Bodhisattva Tahap Kebijaksanaan Murni

“Ananda, orang2 berbudi luhur ini akan keringkan hasrat indrawi mereka dan melepaskan organ-organ mereka dari data-data indrawi; layu-nya sebab-sebab ini menghentikan pertumbuhan karma. Pikiran yang melekat kini menjadi kosong dan jernih, hanyalah kebijaksanaan murni yang secara alami sempurna dan terang, menerangi semua alam di sepuluh penjuru. Pencerahan kebijaksanaan ini disebut tahap kebijaksanaan murni karena mereka telah memotong kebiasaan-kebiasaan indrawi mereka namun belum memasuki aliran Dharma Sang Tathagata.”

Sepuluh Tahap Keyakinan Bodhisattva

“1. (Setelah menyadari kebijaksanaan murni,` jika) mereka gunakan pikiran (yang terus berkembang) untuk menyelidiki kedalaman batin yang paling dalam, maka (esensi pikiran) sempurna dan mendalam terwujud. Keadaan kesempurnaan mutlak ini mengarah pada keadaan keabsolutan sejati, yang menghasilkan keabadian keyakinan mutlak dan pemberantasan total segala pemikiran keliru. Inilah Jalan Tengah dlm kemurnian sejatinya dan disebut sebagai tahap keyakinan Bodhisattva. 2. Keyakinan mereka, yang dengan demikian benar-benar tercapai, menjamin pemahaman mereka yang sepenuhnya, yang tidak lagi terhalang oleh (lima) kelompok unsur, (dua belas) pintu masuk (ayatana), dan (delapan belas) bidang indera (dhatu), sehingga mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian terungkaplah kebiasaan buruk yang menyebabkan reinkarnasi mereka tak terhitung jumlahnya di masa lalu, yang kini dapat mereka ingat hingga detail terkecilnya.Ini disebut tahap ingatan (atau ketidaklupaan). 3. Kesempurnaan mutlak dalam kemurniannya ini menyebabkan (kebijaksanaan) esensial mengubah semua kebiasaan buruk yang terakumulasi sejak masa tanpa awal menjadi satu esensi cemerlang yang terus bergerak maju menuju yang nyata dan murni. Ini disebut tahap kemajuan yang penuh semangat. 4. Esensi pikiran yang kini terwujud adalah kebijaksanaan (yang menghancurkan kegelapan ketidaktahuan). Ini disebut tahap kebijaksanaan. 5. Kebijaksanaan cemerlang ini kini bersinar atas substansinya sendiri dalam keheningan dan kedalaman, sehingga memastikan persatuan permanen (antara fungsi dan substansi). Ini disebut tahap dhyana. 6. Cahaya dhyana menjadi semakin cemerlang Kini hal itu semakin mendalam dan mencegah segala kemunduran. Inilah yang disebut tahap tanpa kemunduran. 7. Pikiran yang kini berkembang dengan lancar mempertahankan semua pencapaian sebelumnya dan menyadari keberadaan semua Tathagata di sepuluh penjuru. Inilah tahap perlindungan Dharma. 8. Cahaya kebijaksanaan, yang telah dilestarikan dan diperkuat, kini dapat, melalui kekuatan transendentalnya, memantulkan cahaya welas asih Buddha dan dengan demikian berdiam di dalam (tubuh-Nya), seperti dua cermin terang yang saling berhadapan dan memantulkan satu sama lain hingga tak terbatas. Inilah tahap kekuatan pemantulan. 9. Cahaya pikiran kemudian berbalik ke dalam dan bersatu selamanya dengan kemurnian mutlak yang tak tertandingi dari Buddha (batin), sehingga berdiam dalam keadaan tak mundur dari ketidakaktifan transendental (wu wei). Inilah yang disebut tahap disiplin (sila) yang tak tergoyahkan. 10. Ketenangan besar diperoleh dari peristirahatan dalam disiplin ini, yang memungkinkan pikiran untuk berkelana sesuka hati ke mana pun di sepuluh penjuru. Inilah yang disebut tahap tekad (yang tinggi) dari pikiran.”
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Berita Patut Disimak
2026-07-23
2632 Tampilan
Perjalanan Melalui Alam Estetis
2026-07-23
375 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-07-23
711 Tampilan
36:57
Berita Patut Disimak
2026-07-22
216 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-07-22
253 Tampilan
Sains dan Spiritualitas
2026-07-22
205 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-07-22
822 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh