Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya

Mengatasi Keinginan: Kutipan dari Sutta Nipāta, Bagian 1 dari 2

2026-05-11
Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Hari ini, adalah suatu kehormatan untuk menyajikan pilihan teks dari Pârâyanavagga, dalam Bab 5 dari Sutta Nipāta. Teks-teks ini diterjemahkan oleh V. Fausböll. Pârâyanavagga menjelaskan momen ketika enam belas pertapa Brahmana, atas perintah guru mereka, mengunjungi Sang Buddha, mencari kebijaksanaan spiritual mengenai kehidupan dan kematian. Mari kita mulai dengan pertanyaan2 yang diajukan oleh Brahmana Agita, Tissametteyya, Punnaka, dan Mettagû.

PÂRÂYANAVAGGA. AGITAMÂNAVAPUKKHÂ.

“‘Oleh apa dunia ini diselimuti,’ begitulah kata Yang Mulia Agita, ‘Oleh apa ia tidak bersinar? Apa yang disebut sebagai noda dunia ini, apakah bahaya besarnya?’

‘Dunia ini diselimuti oleh kebodohan, wahai Agita,” kata Bhagavat [Sang Buddha], ‘Karena keserakahanlah, ia tidak bersinar; keinginan yang Kusebut sebagai noda dunia ini, penderitaan adl bahaya besarnya.’ ‘Arus-arus keinginan mengalir ke segala arah,’ demikian kata Yang Mulia Agita; ‘Apa yang membendung arus-arus itu, katakan apa yang menahan arus- arus itu, dengan apa arus-arus itu dapat dihentikan?’

‘Arus-arus apa pun yang ada di dunia ini, wahai Agita,’ demikian kata Bhagavat [Buddha], ‘Perhatian penuh adl bendungannya, kebijaksanaan itulah yang Kusebut sebagai pengendali arus-arus itu, dengan pemahamanlah arus-arus itu dihentikan.’

‘Baik pemahaman maupun kearifan,’ demikian kata Yang Mulia Agita, ‘dan nama serta bentuk, wahai Yang Mulia, ketika aku bertanya tentang ini, jelaskanlah dengan apa hal ini dihentikan?’

Buddha: ‘Pertanyaan yang telah kau ajukan ini, wahai Agita, akan kujelaskan kepadamu; (Aku akan menjelaskan kepadamu) dengan apa nama dan bentuk sepenuhnya dihentikan; dengan berhentinya kesadaran, hal ini dihentikan di sini.’

Agita: ‘Mereka yang telah menyelidiki (semua) Dhamma (yakni para suci), dan para murid, (serta mereka orang-orang biasa di sini), ketika Engkau ditanya tentang cara hidup mereka, jelaskanlah kepadaku, Engkau yang bijaksana, wahai Yang Mulia.’

Buddha: ‘Biarlah Bhikkhu tidak mendambakan kenikmatan indria, biarlah ia tenang dalam pikiran, biarlah ia berkelana dengan mahir dlm semua Dhamma, dan bijaksana.’ Agitamânavapukkhâ telah berakhir.”

TISSAMETTEYYAMÂNAVAPUKKHÂ.

“‘Siapakah yang merasa puas di dunia ini,’ demikianlah kata Yang Mulia Tissametteyya, ‘Siapa yang bebas dari kegelisahan? Siapakah yang, setelah memahami kedua ujungnya, tidak terjebak di tengah-tengah, sejauh yang dipahami oleh akalnya? Siapakah yang Engkau sebut sebagai orang besar? Siapakah yang telah mengalahkan nafsu di dunia ini?’

‘Bhikkhu yang menjauhi kenikmatan indria, wahai Metteyya,’ demikian kata Bhagavat [Sang Buddha], ‘Yang bebas dari nafsu, selalu bijaksana, bahagia melalui perenungan, ia bebas dari kegelisahan, ia setelah tahu kedua ujungnya tidak terjebak di tengah, sejauh pemahamannya; dia yg kusebut sebagai orang besar; ia telah mengalahkan nafsu di dunia ini.’ Tissametteyyamânavapukkhâ telah selesai.”

PUNNAKAMÂNAVAPUKKHÂ.

“‘Dia yang bebas dari keinginan, yang telah melihat akar (dosa),’ demikian kata Yang Mulia Punnaka, ‘Aku datang memohon dengan satu pertanyaan: karena apakah para Isis dan manusia, Khattiyas dan Brâhmanas, persembahkan korban kepada para dewa secara melimpah di dunia ini? (tentang ini) aku bertanya pada-Mu, Wahai Bhagavat, beritahukan aku.’

‘Semua orang ini […] manusia, para Khattiya, dan Brâhmana, wahai Punnaka,’ demikian kata Bhagavat [Sang Buddha], ‘Yang mempersembahkan korban kepada para dewa secara berlimpah di dunia ini, mempersembahkan korban, wahai Punnaka, setelah mencapai usia tua, mengharapkan kondisi mereka saat ini.’

‘Semua ini […] dan manusia, para Khattiya serta Brahmana,’ demikian kata Yang Mulia Punnaka, ‘Yang telah mempersembahkan korban kepada para dewa secara berlimpah di dunia ini, apakah mereka, wahai Bhagavat, yang tak kenal lelah di jalan persembahan, telah melampaui kelahiran dan penuaan, wahai Yang Mulia? Aku bertanya kepada-Mu, wahai Bhagavat, beritahukan kepadaku.’

‘Mereka menginginkan, memuji, mendambakan, dan meninggalkan (kenikmatan indra), wahai Punnaka,’ demikian kata Bhagavat [Buddha], ‘mereka mendambakan kenikmatan indria karena apa yang mereka capai melalui kenikmatan tersebut; mereka, yg tekun dlm persembahan, terikat oleh nafsu keberadaan, tidak melampaui kelahiran dan penuaan, demikian kata-Ku.’

‘Jika mereka, yang tekun dalam persembahan,’ demikian kata Yang Mulia Punnaka, ‘Tidak melampaui kelahiran dan penuaan, wahai Yang Mulia, siapakah di dunia para dewa dan manusia yang melampaui kelahiran dan penuaan, wahai Yang Mulia? Aku bertanya kepada-Mu, wahai Bhagavat, beritahu ini kepadaku?’ ‘Setelah pertimbangkan segala sesuatu di dunia, wahai Punnaka,’ demikian kata Bhagavat [Buddha], ‘Dia yang tidak terkalahkan di mana pun di dunia, yang tenang tanpa asap nafsu, bebas dari penderitaan, bebas dari keinginan, dia telah melampaui kelahiran dan penuaan, demikianlah Kukatakan.’ Punnakamânavapukkhâ selesai.”

METTAGÛMÂNAVAPUKKHÂ.

“‘Aku bertanya kepadamu, wahai Bhagavat, beritahu aku hal ini,’ demikian kata Yang Mulia Mettagû, ‘Aku menganggapmu tlh mencapai kesempurnaan dan pikiran yang terpelihara, mengapa makhluk ini, apa pun jenisnya yang begitu beragam di dunia, selalu tunduk pada penderitaan?’

‘Kau boleh bertanya kepadaku mengenai asal mula penderitaan, wahai Mettagû,’ demikian kata Bhagavat [Sang Buddha], ‘Aku akan jelaskan itu kepadamu sesuai dengan apa yang Kuketahui: berasal dari upadhi-lah, segala penderitaan muncul, apapun bentuknya, yang bermacam-macam di dunia ini.

Dia yang karena kebodohannya menciptakan upadhi, orang bodoh itu akan kembali alami penderitaan; karena itu, janganlah seorang bijak menciptakan upadhi, mengingat (bahwa inilah) kelahiran dan asal mula dari penderitaan.’”
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Berita Patut Disimak
2026-05-12
595 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-05-12
490 Tampilan
Perjalanan Melalui Alam Estetis
2026-05-12
425 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-05-12
680 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-05-11
1509 Tampilan
34:36
Berita Patut Disimak
2026-05-11
1 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-05-11
734 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-05-11
1 Tampilan
Teknologi Zaman Keemasan
2026-05-11
1 Tampilan
Orang Baik, Karya Baik
2026-05-11
1 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh